Google, raksasa search engine
dengan nilai assets sebesar US$133 milyar per Maret 2015, dengan laba
bersih sepanjang tahun 2014 sebesar US$14.5 milyar atau setara dengan kurang
lebih Rp. 188 triliun (Sumber: Google Financial Statement). Dengan nilai uang segitu,
kalau penulis sih sudah pasti mau pensiun saja. Ha ha ha… Tapi, mungkin karena
mindset seperti itu jadinya nggak bisa maju-maju. Sementara orang lain yang
kaya semakin kaya, agresif dan ekspansif ke mana-mana dan terlihat ambisius dan
serakah, padahal mungkin sebenarnya tujuan mereka adalah mulia
(“mungkin”). Seperti nilai yang di bangun oleh Om William kepada Astra,
yaitu bahwa Astra harus terus mencetak laba, tumbuh besar seperti pohon yang
rindang, berbuah manis, supaya dapat menaungi dan memberi makan semakin banyak
orang, menciptakan semakin banyak lapangan kerja bagi rakyat Indonesia.
Sedikit mengenai Om William yang penulis kutip dari buku “Man of
Honor William Soerjadjaja”, ketika di tanya kenapa Astra harus terus mencetak
laba? jawaban dari Om William adalah:
1. Dengan perusahaan bisa mencetak laba,
perusahaan dapat berkembang dan memperluas bisnisnya sehingga bisa menampung lebih banyak tenaga kerja.
2. Untuk membayar pajak, menjadi asset bagi bangsa.
3. Semakin besar laba yang di peroleh, perusahaan
semakin memiliki kemampuan untuk menaikkan gaji karyawan.
4. Dengan adanya laba, perusahaan bisa mengadakan pelatihan bagi karyawan, sehingga
mereka bisa tumbuh berkembang menjadi sumber daya yang handal, dan dengan
demikian perusahaan juga ikut berkembang.
Dengan ekonomi Indonesia berkembang –> perusahaan akan
bertumbuh –> perusahaan bertumbuh, lapangan kerja semakin besar ->
lapangan kerja semakin besar, semakin banyak orang bekerja, konsumsi masyarakat
akan meningkat –> dengan konsumsi meningkat, bisnis-bisnis akan berkembang
–> bisnis berkembang, perusahaan membayar pajak –> ekonomi Indonesia berkembang.
Demikian siklus idealnya.
Kembali ke topik, he he.. Menurut Forbes, taipan paling
kaya di Indonesia memiliki net worth asset $16.5
milyar (bukan net income) pada tahun 2014. Dengan net
income dalam 1 tahun sebesar $14.5 milyar, Google bisa mencetak 1
taipan di Indonesia setiap tahunnya (dan semoga Google transfer uang
segitu ke rekening anda yang membaca artikel ini… — di dalam
mimpi tentunya), Hahaha… Dari mana kah Google mendapatkan laba
bersih $14.5 milyar per tahun tersebut? Google tidak menjual properti yang
sedang hot beberapa tahun terakhir ini yang nilainya mahal puluhan atau bahkan
ratusan milyar per unit nya, tidak juga menjual mobil, atau kapal, atau pesawat
terbang yang harganya setinggi langit. Sejatinya, Google adalah perusahaan
penyedia jasa iklan, Google hanya jualan iklan saja, meskipun belakangan ini
Google melakukan ekspansi ke beberapa bidang lainnya, tetapi main business dari
Google adalah: iklan.
Ada 2 sumber utama revenue bagi Google yaitu:
§
Google
AdWords (Website milik Google): Yaitu iklan yang di pasang di website milik Google sendiri
seperti Google.com, Google.co.id, Google.co.uk, Youtube, dan sebagainya.
§
Google
Adsense (Website milik orang lain): Yaitu iklan yang di pasang di website yang bukan milik Google,
jadi Google menjual jasa iklan kepada orang lain on behalf of pemilik website
tersebut.
Cara Google AdWords Menghasilkan Duit
Bagi Google
Contoh Google AdWords itu misalnya:
Ketika penulis search dengan keywords “rumah
bekas jakarta”, Google akan menampilkan website yang berkaitan dengan apa yang
penulis cari, dan kemudian Google tambahkan beberapa iklan dari hasil search
tersebut. Iklan tersebut di tandai dengan tulisan “Ad” berwarna kuning. Jadi,
Google menampilkan apa yang users cari, sekaligus memberikan iklan yang relevan dengan apa
yang di cari.

Google Adwords adalah senjata pamungkasnya
Google (Ibarat kalau di Dragon Ball, kira-kira seperti kamehameha nya
Songoku). Jadi, dari contoh di atas ada
beberapa iklan website yang menjual rumah bekas, mereka kita sebut advertisers yaitu perusahaan yang menggunakan
jasa Google untuk memasang iklan. Para advertisers ini akan pasang harga bid, dan yang bid dengan harga paling
tinggi, websitenya akan muncul paling atas. Apabila users misalnya penulis
click pada salah satu dari iklan tersebut, maka advertisers harus membayar
kepada Google sesuai dengan harga bid yang di pasang misalnya setiap 1 kali
click, Google di bayar $0.5 oleh advertiser.
Pada saat menulis artikel ini, ada 49.510
Google search per detik yang di lakukan oleh orang di seluruh dunia
(Sumber: Internet Live Statistics),
atau setara 4.3 milyar search per hari. Andaikata hanya 1% saja dari total search tersebut yang
click pada iklan Google Adwords, dan andaikata per click Google di bayar $0.5,
maka per hari Google mencetak kurang lebih $21 juta, atau $7.8 milyar per
tahun, dan seluruh revenue ini masuk ke kantong Google karena ini website
milik Google sendiri.
Dengan metode bid atau auction (lelang),
Google mendapatkan highest possible price yang rela di bayar oleh advertisers.
Seandainya Google memasang tarif sendiri misalnya sekian dollar per click, bagi
yang merasa terlalu mahal barangkali tidak jadi pasang iklan di Google karena
tidak sanggup atau tidak masuk hitung-hitungan bisnisnya, dan bagi yang merasa
terlalu murah artinya Google kehilangan revenue dari situ karena sebenarnya
mereka rela untuk membayar lebih mahal. Jadi, metode bid merupakan strategi
yang sangat bagus dari Google untuk mendapatkan revenue yang terbaik dari
market. Google menggunakan algoritma lelang yang kompleks untuk memilih
“highest price” dan “most relevant” bid dari advertisers untuk di
tampilkan di halaman utama (algoritma itu mereka sebut dengan istilah Ad Rank).
Cara Google Adsense Menghasilkan Duit Bagi
Google
Untuk memperluas jangkauannya dalam memasang
iklan dan menambah stream of revenue, Google bekerja sama dengan orang
lain yang memiliki halaman website sendiri atau kita sebut dengan publishers. Mekanisme kerja sama yang di lakukan
adalah revenue sharing, di mana publishers akan mendapatkan
(biasanya) 68% dari uang yang di bayarkan oleh advertisers per click, sehingga
sisa 32% akan di terima oleh Google. Jadi, Google mendapatkan 32% dari revenue
atas website yang bukan miliknya sendiri (tidak di kelola oleh Google).
Dan Google telah memiliki program AdWords yang memasang iklan di
websitenya sendiri, jadi Google telah memiliki customers base,
sehingga Google dapat menjual program Adsense ini kepada customers atau
adverisers yang sama.

Gambar di atas ini adalah screen capture
contoh Google Adsense di halaman investopedia. Investopedia adalah website yang
berisi artikel terkait finance dan investasi dan di bangun oleh orang
Canada (established tahun 1999, Investopedia kemudian di beli Forbes dan
kemudian di jual kepada ValueClick pada 2010 dengan transaksi
penjualan $42 juta; sumber: Wikipedia). Website orang asing, tetapi bisa ada
iklan forex dalam bahasa Indonesia di bagian atas website tersebut. Karena
mereka tau, pengunjung websitenya (penulis) adalah orang Indonesia (di ketahui
dari IP Address nya), dan penulis mengunjungi website Investopedia, tentunya
penulis adalah orang yang tertarik dengan hal-hal berbau investasi,
sehingga mereka sodorin iklan Forex. Apabila kita tutup halaman website
tersebut, kemudian kita buka lagi, iklan yang muncul bisa saja berbeda-beda,
misalnya berikutnya yang muncul adalah iklan Agoda, dan sebagainya.
Sama seperti dalam berdagang, yang menghasilkan duit lebih
banyak akan mendapatkan perhatian dan treatment lebih bagus. Premium
publishers atau publishers yang websitenya terkenal, memiliki banyak traffic,
akan mendapatkan perlakuan khusus dari Google. Karena semakin banyak pengunjung
sebuah website, kemungkinan iklan Adsense di klik oleh users semakin besar dan
semakin banyak, dan semakin besar pula revenue yang akan di terima oleh Google
dari advertisers.
Selain di bayar per click, Google juga di
bayar dengan metode CPM (Cost per Mille),
yaitu misalnya advertisers memiliki target website tertentu yang ingin dia
pasang iklannya, maka per 1.000 kali iklannya tampil di website target
tersebut, advertisers akan membayar kepada Google sekian dollars, dan Google
akan membagi revenue nya dengan publishers.
Sumber Penghasilan Google by Segment
Data di atas penulis ambil dari financial highlight nya Google, pie chart tersebut
menunjukkan revenue Google berdasarkan segment produk. Jadi, 90% dari
revenue Google pada tahun 2014 masih bersumber dari iklan yaitu AdWords dan
AdSense. Revenue atau laba kotor dari produk AdSense pada tahun 2014
adalah sebesar $13.9 milyar (sumber: Revenue AdSense) dan memberikan kontribusi 22%
terhadap total revenue Google. Google menerima 32% dari program
AdSense, artinya nilai market dari Google AdSense adalah $43.4 milyar per
tahun, dan publishers mendapatkan 68% atau kurang lebih $29.5 milyar per
tahun dengan menampilkan iklan Google di website mereka. Andaikata ada 1
juta website yang bermain di AdSense, dan 90% dari total traffic adanya di
10% dari website yang ada, yaitu 100.000 website, maka masing-masing dari
website yang ramai pengunjung tersebut menghasilkan $265,000 per tahun
atau kurang lebih Rp. 3,5 milyar per tahun.
Sekarang kita lihat apa saja isi yang 10% tersebut (Other
Revenues). Karena dari revenue Google, AdWords tumbuh rerata 20% per tahun,
AdSense pertumbuhannya lebih lambat hanya 7% pada tahun 2014, dan yang
menakjubkan adalah other revenues yang tumbuh 135% pada tahun 2013, dan 43%
pada 2014.
Other revenues mencakup penjualan aplikasi dan media dari Google
Play. Jadi, Android boleh gratis, tetapi aplikasinya berbayar. Kemudian sumber revenue lainnya adalah
dari penjualan hardware misalnya smartphone Google Nexus, selain itu Google
juga penyedia layanan data, dan lain sebagainya.
Google Chrome
Kenapa Google menghabiskan uang untuk menciptakan Google Chrome?
Karena alasan strategis:
§
Dengan Google Chrome
–> Google Search akan menjadi default search engine.
§
Sehingga Google tidak
harus share revenues. Apabila pengguna menggunakan misalnya Firefox, maka Google
harus membagikan keuntungan dengan Firefox.
§
Google collect data
profile pengguna untuk menyajikan iklan yang lebih tepat sasaran. Misalnya,
Google men track behavior pengguna melalui Google Chrome, bahwa pengguna ini
misalnya penulis suka berkunjung ke website terkait traveling “misalnya”, maka
ketika penulis membuka website yang memiliki kerja sama dengan Google melalui
program AdSense, misalnya Investopedia, Google akan mem-push iklan terkait
traveling misalnya Agoda, atau Booking.com, dan sebagainya.
Android
§
Android mendorong
pengguna untuk menggunakan produk Google, misalnya Google Chrome, YouTube,
Gmail, Google Play, Google Search, dan sebagainya.
§
Menjaga agar
kompetitor tidak mendapatkan posisi strategis tersebut, karena semua aplikasi
mobile selalu bernaung di bawah operating system. Seandainya saja
kebanyakkan smartphones menggunakan operating system dari Microsoft, maka
pasti Microsoft akan push users untuk menggunakan search engine punya Microsoft
yaitu Bing, dan Google akan kehilangan market shares dan revenue.
§
Aplikasi: yaitu
penjualan iklan dan aplikasi lewat Google Play.
YouTube
Revenue yang di dapatkan melalui YouTube sebenarnya termasuk
kategori AdWords yaitu revenue yang di hasilkan dari website milik Google
sendiri, dan iklan-iklan di YouTube juga ada beberapa kategorinya yang tidak
akan kita bahas mendetail di sini.
Jadi, sebenarnya YouTube bukan lah kontributor atas 10% other
revenues, hanya saja ada beberapa poin menarik dari YouTube. Akuisisi YouTube
merupakan contoh akuisisi sinergi yang sangat bagus.
§
Google telah memiliki
relationship dengan jutaan advertisers sebelum akuisisi YouTube. YouTube
sendiri tidak memiliki customer base sebesar itu, hanya saja YouTube memiliki
traffic dan pengguna yang jumlahnya sangat besar, dan trend nya akan terus
berkembang seiring dengan semakin baiknya infrasatruktur telekomunikasi di mana
akses data semakin mudah dan cepat (untuk streaming video online).
§
Sehingga berikutnya
setelah memiliki YouTube adalah, Google pump in iklan dari advertisers. Iklan
di YouTube cukup mahal, tetapi masih lebih murah jika dibandingkan dengan
iklan di TV.
§
Competitive benefit
atau value yang di miliki oleh YouTube adalah apabila seseorang tidak
ingin menonton iklan tersebut, maka user tersebut tinggal skip
iklannya, sehingga advertisers tidak perlu membayar kepada penyedia jasa iklan.
Berbeda kalau advertisers memasang iklan di tv, kalau orang tidak buka tivi
atau kalau orang sedang sibuk dan pergi membuat kopi saat iklan, orang tersebut
tidak menonton iklan tersebut, tetapi advertisers tetap harus bayar kepada
stasiun TV.
§
Dengan akuisisi
YouTube, Google seolah-olah menjadi lowcost provider untuk video based
advertisement yang biasanya hanya ada di TV.
Dengan keadaan Google sekarang, Google memiliki beberapa
competitive advantage:
§
Barrier to entry
semakin besar bagi pemain baru di bidang yang sama, karena Google telah
memiliki relationship yang baik dengan jutaan advertisers dan publishers.
§
Semakin banyak orang
menggunakan google, semakin banyak advertisers yang rela untuk masang iklan,
dan semakin banyak advertisers memasang iklan, semakin banyak orang bid di
Google, maka semakin banyak uang yang dihasilkan oleh google.
§
Semakin banyak uang
yang bisa dihasilkan google, semakin banyak yang dapat Google invest di
R&D untuk improve google products dan google search, dan dengan products
yang semakin bagus dan terus menerus di improve, kompetitors dan pemain baru
memerlukan effort yang cukup besar juga untuk bisa mengikuti
gerakannya Google. Sepanjang tahun 2014, Google spend $9.6 milyar hanya
untuk R&D, dan mereka memiliki 24 team yang berbeda-beda untuk riset.
Digging the Moat atau Menggali Parit
Kata ini di kutip dari Warren Buffett, beliau mengatakan
bahwa bisnis yang bagus dengan return yang tinggi ibarat sebuah istana.
Bisnis yang lain akan berusaha untuk mencuri istana anda, jadi sebaiknya anda
bikin parit di sekeliling istana untuk melindungi diri anda. Google
menggali dan memperbesar paritnya untuk menjaga bisnis intinya.
Di pusat ada google search, yaitu ada adwords program, di mana
google membangun dan memiliki relationship dengan jutaan advertisers. Yang di
mana kemudian Google manfaatkan untuk memberikan nilai tambah bagi
advertisersnya melalui program Google AdSense. Google kemudian membangun
Google Maps dan Google Chrome dengan tujuan untuk menampilkan iklan yang
tepat sasaran sehingga iklan yang di tampilkan menjadi lebih valuable bagi
rekanan advertisers nya. Dengan demikian Google AdSense menjadi lebih bernilai
di bandingkan dengan kompetitor Google yang tidak memiliki atau menyediakan
browser untuk menganalisa users behavior.
Selangkah lebih jauh lagi, dapat kita lihat Google mengakuisisi
YouTube, menciptakan Blogger, untuk menghasilkan lebih banyak traffic. Karena
semakin besar traffic adalah semakin besar revenue bagi Google (Berbeda kalau
bagi operator telekomunikasi, semakin besar traffic, spending untuk membangun
infrastruktur semakin besar, dan tidak mudah untuk menaikkan tarif ke
pelanggan). Kemudian, Google menciptakan consumer products seperti ChromeBook,
Google Nexus, di mana produk tersebut memanfaatkan nama besar Google, dan dari
sisi sebaliknya, dari consumer produk yang terjual, Google mendorong users
untuk terus memakai produk dari Google seperti YouTube, Google Search, Chrome,
dan lain sebagainya.
Seandainya saja Google tidak melakukan ekspansi, menggali parit,
dan hanya bertahan dengan Google Search, sementara competitors yang lain
melakukan hal yang saat ini di lakukan oleh Google, misalnya menciptakan
browser yang bagus, atau membeli Android, atau menciptakan jaringan semacam
blogger untuk menciptakan lebih banyak publishers, dan kemudian mendorong users
untuk menggunakan search engine mereka, maka Google mungkin sudah dalam
keadaan berat saat ini.
Di luar dari itu, Google juga merambah bisnis berbasis komisi
seperti misalnya:
§
Google Flight Search:
untuk mencari tiket pesawat terbang, kalau untuk Indonesia penulis coba
lihat, harga dari Google kurang kompetitif, mungkin belum mereka seriuskan di
situ.
§
Google Hotel Search.
§
Google Compare:
untuk membandingkan produk, misalnya asuransi mobil, ketika users
menggunakan jasa Google untuk compare suatu produk dan deal, maka Google akan
mendapatkan komisi.
§
Google Shopping.
Freemium
Freemium adalah model bisnis di mana Google menawarkan fitur
basic kepada pengguna dengan batasan tertentu, dan kemudian pengguna harus
membayar untuk mendapatkan fitur extra. Misalnya:
§
Google Drive
§
Google Analytics:
Google analytics adalah engine dari Google yang melakukan analisa, misalnya
anda memiliki sebuah website, dan anda ingin tau berapa banyak traffic yang di
dapat, dari mana traffic tersebut berasal, apa yang orang cari sehingga
sampai mendarat di website anda, dan lain sebagainya. Premium Google
Analytics di tawarkan oleh Google dengan harga $150,000 per tahun. Analytic
penting bagi business owner, misalnya dengan bisa mendapatkan behavior
dari masyarakat, penjual bakso dapat mengetahui misalnya masyarakat di daerah
ini sukanya bakso ikan, masyarakat daerah ini sukanya bakso sapi, yang ini suka
pedas, yang itu suka manis, sehingga penjual dapat menawarkan produk yang tepat
kepada orang yang tepat.
Jadi, sementara kita menggunakan produk dari
Google dengan nyaman, tanpa kita sadari sebenarnya pemilik Google tersenyum
ceria karena mendapatkan uang dari situ. China; negara komunis, tidak ingin
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan tersebut, sehingga mereka
blokir Google dan mereka ciptakan search engine mereka sendiri: Baidu. Saat ini, Google masih rajanya search engine
dengan market share global sekitar 70%. (Sumber: Netmarketshare)
§
Kita akan menciptakan
lapangan kerja yang baru. Baidu bisa menciptakan lapangan kerja bagi 40.500
karyawan, dan sepanjang tahun 2014, mereka menghasilkan revenue $7.9 milyar.
(Sumber: Wikipedia)
§
Ada sumber devisa,
ketika deal dengan advertisers dari luar negeri, artinya kita melakukan
ekspor; yaitu ekspor jasa iklan. Semakin banyak suatu negara sanggup melakukan
ekspor, mata uangnya akan semakin kuat.
§
Apabila kita
membangun industri teknologi yang besar, kita tidak akan babak belur
seperti saat ini, di mana ketika harga komoditi anjlok, perusahaan-perusahaan
komoditi tumbang dan PHK di mana-mana, terutama sektor batu bara dan
perkebunan. Tentunya, berpengaruh juga ke sektor lainnya seperti alat berat,
leasing atau finance, dan sebagainya.
sumber: https://bangliman.wordpress.com/2015/07/03/bagaimana-cara-google-menghasilkan-uang/